pernikahan adalah hal yang paling sering dibahas oleh teman-teman saya dikampus.
Dulu..dulu sekali ketika saya SMA sayapun sering berfikir untuk merasakan nikah muda. selalu membayangkan masa-masa birjihad bersama. keromantisan dan kebersamaan. namun itu dulu.
sekarang ketika umur saya mulai melewati dua puluh, tema itu tak menarik lagi ditelinga saya. jenuh. bosan. bahkan menakutkan.
bagaimana tidak. begitu banyak masukan yang saya terima tentang pernikahan. semuanya membuat saya ngeri, merinding bulu kuduk, dan menangis.
bayangkan saja teman
jika cemberut pada suami dosa
menolak bergaul seluruh malaikat melaknat
pergi tanpa izin dilaknat pula
ada juga cerita shahabiyah yang menyediakan cambuk untuk suaminya, bersiap-siap dicambuk jika makanannya tidak enak(sedangkan saya masakpun tak bisa.ironis)
sehebat apakah seorang lelaki? hingga rosulpun berkata “jika manusia diperbolehkan bersujud pada manusia lainnya, niscaya aku menyuruh pada istri untuk bersujud pada suaminya”
sehebat apakah mereka hingga mereka dapat memukul istrinya?
hingga mereka dapat mengacuhkan istrinya tanpa harus dilaknat?
Sayapun kembali berfikir, akankah saya menikah?
ketika saya melihat dengan mata kepala sendiri fenomena pernikahan yang begitu mengerikan.
akankah saya seperti Robi’ah?
namun saya masih ingin menjadi umat Rosul, yang akan ia banggakan jumlah dan keimannya.
saya masih ingin menjadi umatnya.
